
Kalau misalnya ada yang bertanya pada saya ‘apa film favorit kamu tahun ini?’, saya akan dengan sangat lantang dan sangat bersemangat menjawab satu judul film yang sayangnya, hanya berhasil tayang dengan waktu yang sangat sebentar: Nobody Loves Kay (2026)
Film coming-of-age karya sutradara Bernardus Raka ini bercerita tentang seorang anak muda bernama Kay yang ingin menjadi seorang pemain profesional e-sport Mobile Legends, tapi dia harus memilih antara apa yang menjadi mimpinya, dan apa yang diminta oleh orang tuanya: menjadi murid teladan supaya bisa meringankan beban kedua orang tuanya yang sedang menjadi TKI di luar negeri.
Kalau dicermati, premisnya klise dan sederhana. Apa yang bisa dikembangkan? Ceritanya sudah tertebak bukan? Tapi percayalah kalau saya bilang Nobody Loves Kay adalah salah satu film dengan cerita terbaik di tahun 2026. Film ini rasanya berhasil memperlihatkan dan membuat penonton merasakan dengan sepenuh hati, betapa terjalnya perjalanan yang harus ditempuh demi sebuah mimpi.
Dibintangi oleh Bima Azriel, Rey Bong, Joshia Frederico, Aurora Ribero dan masih banyak lagi, Nobody Loves Kay terbilang punya banyak karakter dengan sub-plot yang bercabang. Jangkar utamanya adalah Kay (yang diperankan oleh Bima Azriel) seorang remaja SMA yang tinggal bersama neneknya. Bersama dua sahabatnya Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico), mereka punya mimpi untuk menjadi seorang pro-player Mobile Legends agar bisa memperbaiki kehidupan keluarganya yang serba kekurangan.
Hubungan bromance tiga sekawan ini adalah pondasi emosi dari cerita pada film, yang kemudian akan bercabang dan berevolusi jadi sebuah cerita yang lebih besar, melahirkan ‘rasa’ yang hakiki dalam hati dan benak penonton.
Sebagai film coming-of-age, perjalanan dan transformasi karakter jadi elemen storytelling yang fundamental karena disinilah kita sebagai penonton akan ‘masuk’ ke dalam cerita, merasakan setiap dinamika emosi yang karakter rasakan. Dan menurut saya pribadi, Nobody Loves Kay berhasil melakukannya dengan sempurna karena tiga karakter utama (Kay, Ido, dan Aurel) punya desain karakter yang distingtif yang saling melengkapi, memberikan campuran ‘rasa’ emosi yang berbeda berkat konflik internal dan eksternal yang bersautan dengan prima satu sama lain.
Dalam Nobody Loves Kay, penulis skenario Johanna Wattimena dan penulis sekaligus sutradara Bernardus Raka berhasil menciptakan tidak hanya konflik yang sesuai dengan trait masing-masing karakter yang ada, tapi juga berhasil menjahit setiap subplot menjadi satu cerita koheren yang punya rasa yang berbeda-beda setiap fasenya. Diawali dengan rasa bromance yang kuat di awal cerita, sedikit bumbu romansa di tengah, hingga rasa kecewa pada orang tua yang begitu dalam di akhir cerita.
Sebagai orang yang sudah menonton ratusan film Indonesia, mengkombinasikan begitu banyak ‘rasa’ dalam cerita tanpa membuatnya abstrak adalah satu hal yang sangat sulit, tapi Nobody Loves Kay berhasil melakukannya dengan sempurna karena dua hal yang menurut saya, sangat jarang bisa dilakukan oleh filmmakers Indonesia.
Alasan pertama, adalah bagaimana film membangun tema cerita dan memperkenalkan premis pada penontonnya. Satu keputusan terbaik dari film Nobody Loves Kay adalah dengan tidak fokus ‘menjual’ elemen e-sports tapi lebih fokus menceritakan perkembangan karakternya. Tapi dari semua elemen storytelling yang dibawakan dengan sangat baik oleh film, pendekatan cerita yang realistis jadi salah satu faktor paling krusial yang membuat film ini spesial.
Jika biasanya film coming-of-age mencekoki penontonnya dengan pesan moral, Nobody Loves Kay memilih untuk menyajikan semua konflik pada penonton apa adanya: tidak menggiring, tidak dipertebal, dan tidak menggurui. Perjalanan dalam mewujudkan sebuah mimpi ujungnya adalah pilihan, dan film hanya memberikan dua pilihan yang berseberangan apa adanya: antara memilih mengikuti ujian sekolah atau mengikuti turnamen game, antara memilih mengikuti keinginan orang tua atau mengikuti kata hati untuk meraih mimpi, menjadi seorang pemain esports profesional.
Tidak ada adegan yang memaksa kita memilih satu pilihan, tidak ada narasi yang menggiring untuk berat sebelah, kita sebagai penonton hanya bisa pasrah sekaligus berempati dengan Kay, hanyut masuk ke dalam cerita, mempercayakan semuanya pada pilihan yang akan diambil oleh Kay.
Dan saya pribadi suka, sangat suka dengan bagaimana tema cerita disimpulkan secara realistis, melalui satu kalimat yang sederhana dari karakter Eyang:
“Semuanya pilihan ada akibatnya, tanggung sampai akhir”
Alasan kedua kenapa kita sangat bisa merasakan ‘rasa’ dalam film ini adalah eskalasi konflik yang tidak hanya detail dalam penceritaannya, tapi juga presisi pacing dan momentumnya. Dalam membangun konflik dan motivasi karakter, arc setiap karakter benar-benar diperhitungkan dengan matang dan saling melengkapi, saling bersahutan. Bagaimana tiga sekawan bersemangat menjadi pro player tapi akhirnya pupus, bagaimana rivalitas Kay dan Ido berkembang sampai puncak, bagaimana romansa Amanda dan Kay mulai dan berakhir, sampai bagaimana konflik Kay dengan orang tuanya perlahan naik hingga akhirnya pecah dengan keras.
Ibarat masakan, Nobody Loves Kay adalah sebuah makanan yang berhasil menciptakan kombinasi cita rasa yang begitu beragam, tapi tetap seimbang dan tetap nikmat paripurna, hingga suapan terakhir.
Dari semua film Indonesia yang sudah saya tonton selama ini, Nobody Loves Kay adalah salah satu film dengan ‘rasa’ yang paling kuat yang pernah saya rasakan. Tema mewujudkan mimpi yang dirasa mustahil, bromance antar tiga sekawan yang retak dan kemudian mekar, romansa yang harus berakhir oleh keadaan, hingga gejolak emosi anak dan orang tua, berhasil diceritakan, ditunjukan, dan dirasakan oleh penontonnya dengan tanpa celah.
Kita semua punya mimpi. Apapun bentuknya, kita semua punya keinginan, harapan, dan tujuan untuk bisa menggapai mimpi tersebut. Dan jujur ketika menonton Nobody Loves Kay, saya tidak menyangka kalau saya bisa merasakan sepercik bagaimana rasanya saat mimpi tersebut jadi nyata, melalui cerita Kay yang amat terasa begitu hangat dan personal.
Dan saya harap, siapapun yang belum menonton dan akan menonton Nobody Loves Kay, akan juga merasakan hal yang sama.




