“The most creative is the most personal”
— Martin Scorcese
Di perhelatan Oscar tahun 2020, sutradara Bong Joon-ho dari film ‘Parasite’ yang berhasil memenangkan kategori Best Picture memberikan kutipan yang sangat membekas pada dirinya. Kutipan tersebut berasal dari salah satu sutradara legenda sinema dunia, Martin Scorcese. Kutipannya sederhana dan mudah dimengerti, yang artinya cerita yang paling kreatif, paling menarik, adalah cerita yang paling personal bagi pembuatnya.
Sebuah cerita yang personal dipercaya akan memancarkan ‘jiwa’ pembuatnya yang bisa dirasakan oleh penontonnya. Dan sebagai penikmat film, saya mengerti ‘rasa’ ini karena saya bisa membedakan mana film yang benar-benar personal dan sungguh-sungguh dibuat dengan hati yang penuh, dan mana film yang dibuat demi mendapatkan keuntungan semata.
Salah satu film yang menurut saya personal — dan sangat personal juga menurut sutradaranya — adalah film Tinggal Meninggal yang diproduksi oleh Imajinari pada tahun 2025. Cerita ‘aneh’ tentang seorang pria yang memalsukan kematiannya sendiri demi bisa fit-in dengan rekan kerjanya ini adalah cerita karya Kristo Immanuel dan istrinya Jessica Tjiu.
Satu cerita yang sangat personal bagi Kristo yang berangkat dari bagaimana dia dulu ketika kecil kesulitan untuk mendapatkan teman, baik dari lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah.
Persis seperti Gema.
Cerita lain yang menurut saya terasa sangat personal sampai-sampai saya bisa merasakan ‘jiwa’ dari pembuatnya adalah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton, judulnya Nobody Loves Kay. Filmnya tentang perjalanan hidup seorang player profesional Mobile Legends — yang saya sama sekali tidak tahu karena saya tidak main Mobile Legends — tapi di filmnya, ceritanya jauh dari ‘cuman film tentang game’.
Nobody Loves Kay adalah cerita tentang anak muda dan mimpinya, yang harus tersandung oleh keadaan, kehidupan, dinamika pertemanan, sampai di satu titik harus memilih: apakah dia harus mengikuti apa yang disuruh orang tuanya, atau apa yang dirasa teguh dalam hatinya. Kisah perjalanan hidup yang sangat personal bagi sutradara, produser, dan filmmaker dibelakangnya, dan saya sebagai penonton bahkan bisa merasakannya.
Persis seperti Kay.
Sebagai seorang pengulas film, saya sadar kalau standar film bagus itu benar-benar subjektif. Dan menurut saya pribadi, Tinggal Meninggal dan Nobody Loves Kay adalah satu film yang bagus dan terasa sangat personal, persis seperti apa yang dibilang oleh Bong Joon-ho dan Martin Scorcese. Cerita yang kreatif, personal, unik, punya isu yang saking relate-nya bisa dirasakan sekali ‘emosi’ setiap karakter dalam film oleh penontonnya.
Ketika saya menonton film Tinggal Meninggal dan Nobody Loves Kay di bioskop, saya langsung berasumsi kalau film ini akan mendapatkan banyak penonton, karena memang, ceritanya ya bagus. Siapa sih yang ga mau nonton film dengan cerita bagus? Semua orang yang datang dan membayar uang ke bioskop tentu ingin menonton cerita yang bagus bukan?
Tapi setelah saya mengobrol dengan produser-produser dari Tinggal Meninggal dan Nobody Loves Kay, saya jadi sadar satu hal:
Cerita bagus itu cuman setengah perjalanan — bahkan mungkin kurang— yang harus ditempuh sebuah film supaya jadi film laku yang ditonton banyak orang di bioskop.
Cerita Bagus Belum Tentu Laku, Cerita Laku Belum Tentu Bagus
“Kenapa ya kok film bagus bisa ga laku dan ga banyak yang nonton di Indonesia?”
Satu pertanyaan di atas jadi pondasi utama kenapa saya berangkat menemui Dipa Andika, salah satu produser Tinggal Meninggal. Dia dan Ernest Prakasa menjadi produser dari directorial debut Kristo Immanuel, yang pernah berbagi cerita pada kami kalau dia bisa jadi sutradara karena meniru suara seorang pria dari Solo.
Dari historinya, Tinggal Meninggal tayang di bioskop dari tanggal 14 Agustus hingga 21 September 2025 dan berhasil mendapatkan jumlah penonton sebanyak 184.960. Angka yang terbilang jauh dibawah ekspektasi, menurut sutradara dan produser.
Tapi anehnya, ketika film ini tayang di Netflix, banyak orang kemudian menonton, berdiskusi, dan menyadari bahwa Tinggal Meninggal punya cerita yang unik, personal, dan relate oleh pengalaman banyak orang. Beberapa orang bahkan menangis seperti melihat diri mereka sendiri ketika menonton film ini. Tapi tidak sedikit juga yang tidak tahan dengan second hand embarrassment yang diperlihatkan oleh karakter Gema. Dan beberapa bulan setelah tayang di Netflix, Tinggal Meninggal ternyata mendapatkan banyak penghargaan, lima penghargaan dari Festival Film Wartawan 2025 serta lima penghargaan dari JAFF 2025, termasuk kategori Best Film.
Jika dikaitkan satu per satu, rasanya kita bisa bilang kalau Tinggal Meninggal termasuk film bagus karena disukai banyak orang, bukan? Tapi kenapa ya waktu tayang di bioskop, film ini tidak banyak yang menonton?
Saya membawa pertanyaan ini pada Dipa Andika, dimana saya mencoba ‘membedah’ gap antara film bagus dengan film laku. Dari cerita Pak Dipa — dan sempat dibicarakan juga oleh Ernest Prakasa — ada beberapa faktor yang membuat Tinggal Meninggal gagal mendapatkan jumlah penonton yang banyak.
Faktor yang pertama adalah target audience yang ternyata belum siap dengan sebuah cerita dark comedy yang mungkin memang punya cerita dengan relatability yang tinggi, tapi hanya untuk segelintir orang saja. Cerita tentang seseorang yang canggung dan sangat kaku sehingga dia memutuskan untuk memalsukan kematiannya sendiri demi mendapatkan teman di kantor, bikin banyak orang merasa ‘cringe’ atau ‘malu’ dan tidak kuat serta tidak bisa menikmati jenis cerita dark comedy seperti ini.
Faktor kedua yang juga termasuk krusial ternyata adalah pemilihan judul. Anggap kalian tidak tahu Tinggal Meninggal, tidak pernah menonton, tidak pernah lihat posternya, tidak pernah ada memori sama sekali. Sekarang coba kalian tutup mati dan tanyakan pada diri sendiri:
“Kalau ada film judulnya Tinggal Meninggal, ceritanya bakal kaya gimana?”
Saya pribadi akan menjawab, berdasarkan judulnya saya rasa Tinggal Meninggal adalah sebuah film horor komedi. Nah, jauh berbeda dengan apa yang kita tahu dan kita tonton bukan?
Ini juga salah satu faktor pain point yang ternyata cukup krusial yang mungkin berpengaruh besar untuk kesuksesan sebuah film di industri: pemilihan judul film yang tepat.
Judul film sangat berhubungan dengan ekspektasi yang dibangun oleh penonton. Ekspektasi penonton sangat berhubungan dengan niat menonton, yang berbanding lurus dengan keputusan apakah mereka akan benar-benar tertarik untuk membeli tiket untuk menonton atau tidak. Secara logika, jika ada ketimpangan atau ketidak-sesuaian antara apa yang diekspektasikan oleh penonton dengan apa yang dilihat dari promo material (trailer, poster, etc), biasanya penonton jadi enggan atau ragu untuk membeli tiket film tersebut.
Seperti yang kita tahu, pangsa pasar film Indonesia masih dipenuhi dengan film-film bergenre horor. Tapi dari pengamatan pribadi saya, beberapa segmen dari penonton film bioskop banyak yang merasa ‘jenuh’ dengan terlalu maraknya genre film horor Indonesia, sehingga membangun ekspektasi dan sentimen negatif terhadap kemunculan judul-judul yang terasa seperti film horor.
Padahal, cara Tinggal Meninggal untuk membangun ekspektasi bahwa filmnya bukan film horor sudah sangat luar biasa, mulai dari membuat video cast reveal yang super unik, sampai membuat promosi video menggunakan plot-plot seperti drama Cina. Jujur, saya bahkan merasa salah satu promosi pemasaran film Indonesia dengan konten paling kreatif dipegang oleh Tinggal Meninggal. Tapi ternyata kalau dilihat dari hasilnya, konten sebagus itu pun belum bisa mengubah ekspektasi calon penonton sepenuhnya sehingga tidak bisa mendongkrak jumlah penonton pada saat tayang di bioskop.
Faktor ketiga yang mungkin paling krusial dan paling berpengaruh dalam kesuksesan film Tinggal Meninggal dalam mendapatkan jumlah penonton adalah tanggal tayang. Pada saat itu, Tinggal Meninggal tayang bersamaan dengan salah satu judul ‘raksasa’ yang tidak terdeteksi atau luput dari perhatian, baik oleh sutradara maupun para produser.
Film tersebut adalah Demon Slayer: Infinity Castle, yang berhasil mendapatkan hampir setengah juta penonton di hari pertama, tepat satu hari setelah Tinggal Meninggal tayang.
Dengan jumlah yang fantastis ini, tentu saja pihak bioskop akan lebih memprioritaskan jumlah penayangan film Demon Slayer, yang berdampak pada pemotongan jumlah show Tinggal Meninggal yang juga tidak mendapatkan slot show yang banyak pada hari pertama.
Akibatnya, Tinggal Meninggal hanya bertahan selama beberapa minggu dengan jumlah total 184.960 penonton.
Kalau disimpulkan, kegagalan Tinggal Meninggal untuk mendapatkan jumlah penonton yang banyak tidak sepenuhnya karena ceritanya yang tidak bagus, tapi lebih pada aspek elemen-elemen film yang berhubungan dengan bagaimana film dipromosikan dan didistribusikan. Ketika saya bertanya ‘apakah mereka akan mengubah bentuk film Tinggal Meninggal supaya bisa mendapatkan jumlah penonton yang banyak’, sutradara dan produser semua sepakat dan satu suara menjawab tidak karena merasa filmnya sudah pada titik yang paling optimal. Mereka sangat puas dengan hasilnya.
Keadaan yang sama juga ternyata dialami oleh film Nobody Loves Kay, dimana semua filmmaker dibaliknya enggan mengubah apapun dari filmnya karena sudah sangat puas dengan hasil akhir yang ditayangkan di bioskop.
Tapi dari wawancara saya dengan produser-produser film Nobody Loves Kay, permasalahan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang terjadi di Tinggal Meninggal.
Buat yang belum sempat menonton, Nobody Loves Kay adalah film coming-of-age yang mengangkat cerita dari seorang pro player Mobile Legends Filipina bernama Kairi. Tapi walaupun mengangkat dunia esports, inti cerita dari film Nobody Loves Kay adalah tentang perjuangan seorang anak muda yang berjuang meraih mimpinya walaupun didera ekonomi keluarga, rusaknya persahabatan hingga memutuskan satu pilihan yang akan mengubah kehidupannya, selamanya.
Kembali lagi, cerita bagus itu memang subjektif, tapi menurut saya pribadi, saya dengan sangat lantang bisa bilang kalau Nobody Loves Kay adalah salah satu film Indonesia terbaik yang pernah saya tonton.
Tapi sesuai judul dari bab ini, cerita bagus tidak menjamin sebuah film bisa mendapatkan banyak penonton.
Faktor pertama yang dihadapi oleh Nobody Loves Kay adalah kepastian tanggal penayangan film. Dari wawancara saya bersama para produser, saya baru tahu bahwa untuk sebuah film bisa tayang di bioskop XXI — yang sampai saat ini masih jadi waralaba bioskop paling besar di Indonesia — mereka harus mengajukan permohonan penayangan pada XXI. Tanggal dan jumlah show dari film yang akan ditayangkan benar-benar ditentukan sepenuhnya oleh XXI, tidak bisa request kapan tayang dan tayang dimana.
Dan saya juga baru tahu satu hal, karena XXI adalah sebuah waralaba yang kalau kita ibaratkan bioskop adalah ‘toko’ milik mereka, XXI lebih memprioritaskan film-film yang punya probabilitas tinggi akan ‘laku’ di toko mereka, salah satunya dengan melihat reputasi rumah produksi atau judul film yang memohon penayangan. Semakin dikenal judul film atau rumah produksi suatu film, semakin mudah pula sebuah film untuk mendapatkan slot penayangan pada tanggal-tanggal prime time.
Nobody Loves Kay sendiri diproduksi oleh sebuah rumah produksi kecil bernama Kun Films, tapi karena bekerja sama dengan rumah produksi besar Visinema Pictures, Nobody Loves Kay berhasil mendapatkan tanggal tayang tidak terlalu jauh dari tanggal film selesai diproduksi.
Selain tanggal tayang, ada dua faktor yang saling berhubungan dan jadi pertimbangan sutradara dan produser karena akan mempengaruhi jumlah penonton Nobody Loves. Yang pertama sebenarnya sudah terlihat pada saat proses pengembangan cerita, yaitu siapa yang jadi demografi target utama penonton filmnya.
Nobody Loves Kay adalah film yang menceritakan tentang seorang pemain Mobile Legends dari Onic, satu tim esports yang terkenal di skena MPL. Dan secara pangsa pasar, Mobile Legends sendiri merupakan salah satu game yang paling banyak pemainnya di seluruh Indonesia, yang artinya ada banyak pula target penonton yang bisa diarah oleh film Nobody Loves Kay.
Tapi ternyata, tidak semudah itu.
Dari riset perilaku konsumen, demografi pemain Mobile Legends bukanlah tipe konsumen yang gemar menonton di bioskop, baik secara daya beli maupun minat untuk menonton. Kalau dipikir secara logika, mayoritas target penontonnya mungkin akan punya mindset seperti ini:
“Daripada beli tiket bioskop, mending beli diamond. Daripada nonton film 3 jam, mending push rank 3 jam”
Artinya, target demografi dan bagaimana perilaku penonton juga jadi salah satu faktor yang bisa menentukan bagaimana bentuk sebuah ceritanya (jika cerita belum dibuat) dan bagaimana film tersebut dipasarkan (jika ceritanya sudah dibuat tanpa perhitungan target penonton). Dan berhubung tim dibalik Nobody Loves Kay diberikan kebebasan untuk bercerita, mereka memilih untuk tidak ‘menebalkan’ elemen esports dari Mobile Legends dan lebih memilih untuk fokus pada inti film feature: storytelling.
Tapi dengan begitu, berarti Nobody Loves Kay harus merelakan target penonton yang sangat banyak dan sangat besar, yaitu pemain-pemain Mobile Legends di Indonesia.
Faktor kedua yang berhubungan dengan penentuan jumlah penonton adalah marketing timeline dan marketing promotion. Seperti yang kita semua pahami, mau produknya sebagus apapun kalau tidak ada promosi atau tidak tepat secara waktu, target, dan tempat dalam memasarkannya, tidak akan ada yang mau membelinya. Dan dalam memasarkan sebuah film, menurut para produser Nobody Loves Kay yang saya wawancarai, waktu yang paling ideal untuk mempromosikan sebuah film adalah 3 bulan sebelum film tayang.
Waktu 3 bulan ini bisa dibilang waktu yang paling prima karena ada banyak ruang dan waktu untuk mempromosikan film dengan cara early screening di beragam kota potensial, sekaligus mempromosikan materi promo film seperti poster, teaser, trailer dengan efektif dan efisien.
Nah, karena ada miskomunikasi serta satu dan hal-hal lainnya, Nobody Loves Kay hanya punya waktu 3 minggu sebelum film tayang. Bukan waktu untuk memulai promosinya, tapi waktu untuk mulai mendesain materi dan promosi filmnya.
Memang telat, sangat telat.
Pantas saja rasanya film Nobody Loves Kay ini rasanya ‘anyep’ dan tidak terasa ada hype yang dibangun, baik secara organik maupun tidak. Padahal secara fungsi, materi promosi ini sangat penting untuk menjelaskan cerita dan tema film secara singkat untuk menyebarkan awareness dan membangun ekspektasi penonton, terlebih Nobody Loves Kay harus menjelaskan bahwa film tersebut bukan film tentang esports, tapi film tentang mimpi anak muda.
Oh iya, menurut produser Nobody Loves Kay, pada saat film tayang pun ada banyak kejadian ‘anomali’ yang sulit dijelaskan secara logika dimana ada lumayan banyak show yang tiba-tiba layar proyektornya rusak di 3 hari penayangannya di sejumlah wilayah. Satu dua show masih wajar, tapi kalau banyak show di hari-hari krusial penayangan sebuah film, saya pribadi bahkan jadi menaruh penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dari wawancara saya dengan para produser film Tinggal Meninggal dan Nobody Loves Kay, anggapan bahwa ‘kalau mau bikin film laku, ceritanya harus bagus’ ternyata terlalu mereduksi dan terlalu mensimplifikasi banyak variabel yang berhubungan dengan jumlah penonton sebuah film.
Iya, cerita bagus merupakan satu hal yang mutlak harus dimiliki oleh film berkualitas bagus. Tapi untuk mengubah film bagus menjadi sebuah film laku yang banyak penontonnya, film tidak lagi hanya soal bentuk cerita dan pendekatan visual filmnya saja, tapi ada sangat banyak elemen bisnis yang terlibat di dalamnya, yang suka atau tidak suka akan sangat menentukan apakah film tersebut akan diminati dan ditonton oleh banyak penonton atau tidak, yang ujungnya akan menentukan apakah filmnya menguntungkan atau tidak.
Karena pada ujungnya, film adalah sebuah produk bisnis, dan tidak ada investor yang mau dan dengan sengaja ingin rugi dalam menjual sebuah produk bisnis.
Benar bukan?











Bangga nonton Tinggal Meninggal waktu masih di bioskop